Kamis, 22 Januari 2026

Proyek Gasifikasi Batu Bara Menuju DME Diputuskan Desember, ESDM Tunggu Finalisasi Kajian Danantara

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia

Jakarta, TrenNews.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa keputusan kelanjutan proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi LPG akan ditetapkan pada Desember 2025. Keputusan tersebut menunggu rampungnya finalisasi studi kelayakan (feasibility study/FS) oleh perusahaan BUMN Danantara.

Kementerian ESDM sebelumnya telah menyelesaikan pra-FS dan menyerahkannya kepada Danantara. Saat ini kajian final tengah disusun bersama konsultan independen dan ditargetkan selesai pada awal Desember.

“Danantara melakukan FS dengan menggandeng konsultan yang baik. Kemarin kami lakukan ratas dengan Presiden Prabowo Subianto. Presiden memberi waktu paling lambat awal Desember selesai. Setelah itu baru kami tentukan lokasi proyek, karena berkaitan dengan ketersediaan bahan baku,” ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jumat (14/11/2025).

Menurut Bahlil, sejumlah investor global mulai dari China, Eropa, hingga Amerika Serikat berminat terlibat dalam penyediaan teknologi. Namun untuk pengelolaan proyek, ia mendorong agar BUMN di bawah komando Danantara menjadi pemain utama.

“Teknologinya salah satunya dari China, Eropa, atau Amerika. Tapi perusahaannya saya menyarankan BUMN Danantara yang masuk, karena market-nya captive. Kita harus jujur, teknologi luar tetap dibutuhkan,” ungkapnya.

Bahlil menambahkan bahwa pembahasan proyek telah dilakukan bersama Presiden Prabowo dan CEO Danantara, Rosan Roeslani. Pembangunan konstruksi ditargetkan dapat dimulai pada 2026.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan adanya investor asal China yang tertarik menanamkan modal sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp19,7 triliun untuk proyek DME. Tri belum mengungkap identitas perusahaan tersebut, namun memastikan mereka akan bermitra dengan perusahaan swasta nasional.

Tri menyebut proposal investasi yang diajukan sangat menarik karena menawarkan tingkat pengembalian (internal rate of return/IRR) di atas 15% dengan menggunakan batu bara kualitas rendah.

“Investasinya dilakukan perusahaan itu sendiri, tanpa negara mengeluarkan dana. Dengan IRR yang cukup menarik, dalam waktu tidak terlalu lama kita dapat memulai industri DME yang berbahan baku batu bara kualitas rendah,” jelasnya.

Pewarta: Nisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini