Relawan HIMLI Siap Turun ke Lokasi Longsor dan Banjir di Sibio Bio, PWRC Beri Apresiasi
Palembang, TrenNews.id – Bencana longsor dan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra menimbulkan dampak serius, khususnya di Desa Sibio Bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Hingga kini, desa tersebut masih terisolasi dan mengalami keterbatasan bantuan akibat rusaknya akses transportasi.
Menanggapi kondisi tersebut, Relawan Fajar Dermawan Laia yang dikomandoi Dr. Filpan Fajar Dermawan Laia, selaku Ketua Umum Himpunan Marga Laia Indonesia (HIMLI), menyatakan kesiapan untuk turun langsung ke lokasi bencana guna menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Umum Persatuan Wartawan Reaksi Cepat (PWRC), Kornelius Wau. Ia menilai inisiatif Filpan sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial terhadap para korban bencana di Sumatra, khususnya warga Desa Sibio Bio.
“Langkah cepat relawan menjadi bukti bahwa solidaritas kemanusiaan masih sangat kuat di tengah masyarakat. Kami dari PWRC sangat mengapresiasi inisiatif Pak Filpan dan tim HIMLI yang bersedia turun langsung ke daerah terisolir,” ujar Kornelius.
Menurutnya, aksi tersebut tidak hanya soal penyaluran bantuan materi, tetapi juga mencerminkan empati dan keberanian menembus keterbatasan demi kemanusiaan.
“Ini bukan hanya tentang bantuan logistik, tetapi tentang kepedulian dan keberanian hadir langsung untuk masyarakat yang terdampak,” tambahnya.
Kornelius juga mengajak seluruh elemen, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat luas, untuk bersama-sama membantu warga yang terdampak bencana di Sibio Bio.
Sementara itu, Filpan Fajar Dermawan Laia mengungkapkan bahwa kondisi warga di Desa Sibio Bio masih sangat memprihatinkan. Minimnya bantuan disebabkan oleh akses menuju desa yang rusak parah akibat longsor dan banjir.
“Tim kami akan bergerak langsung untuk menyalurkan bantuan,” kata Filpan saat ditemui di Batam Center, Kota Batam, beberapa hari lalu
Berdasarkan pendataan relawan, tercatat sebanyak 272 kepala keluarga (KK) terdampak bencana tersebut. Sebagian warga kehilangan tempat tinggal, sementara puluhan rumah lainnya dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Selain kerusakan rumah, warga juga menghadapi keterbatasan pangan, pakaian, dan tempat berlindung. Akses menuju desa dinilai sangat berat karena jalur darat harus menyeberangi sungai, sementara jembatan utama dilaporkan runtuh.
Untuk mencapai permukiman warga, relawan dan masyarakat harus berjalan kaki sekitar 1,5 hingga 2 jam dari ujung muara sungai.
Filpan pun mengajak masyarakat Batam dan berbagai pihak lainnya untuk ikut berpartisipasi dalam misi kemanusiaan tersebut.
“Kami mengharapkan dukungan, bantuan, dan doa dari semua pihak. Bagi masyarakat yang ingin membantu, bisa langsung menghubungi tim kami. Seluruh bantuan akan disalurkan secara maksimal dan transparan,” tutupnya.
Pewarta: Amiyadi


Tinggalkan Balasan