Dunia Waspadai Perluasan Konflik AS-Israel dan Iran
New York, TrenNews.id – Komunitas internasional menyerukan penghentian segera eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Sejumlah negara mendesak para pihak untuk menghentikan aksi militer dan kembali ke jalur diplomasi guna mencegah krisis yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, mengecam pecahnya konflik terbaru tersebut. Ia meminta penghentian permusuhan dan deeskalasi segera, seraya menegaskan bahwa serangan kedua pihak merusak perdamaian dan keamanan internasional.
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, menyatakan bahwa serangan lanjutan hanya akan menambah korban jiwa dan penderitaan kemanusiaan.
Serangan dilancarkan pada Sabtu (28/2/2026), ketika Israel yang didukung AS menggempur Iran. Dalam serangan itu dilaporkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas bersama sejumlah pejabat tinggi lainnya. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Sejumlah sekutu Barat AS seperti Australia dan Kanada menyatakan dukungan terhadap serangan tersebut dengan alasan mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Perancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam pernyataan bersama menyerukan agar AS dan Iran melanjutkan pembicaraan serta mendukung penyelesaian melalui negosiasi.
Sementara itu, Rusia mengecam keras serangan AS-Israel. Moskwa menyebut tindakan tersebut sebagai agresi bersenjata yang tidak beralasan terhadap negara berdaulat dan memperingatkan potensi krisis kemanusiaan dan ekonomi di kawasan.
Dari Beijing, Wakil Tetap China untuk PBB Fu Cong menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan tersebut, terutama karena terjadi saat perundingan damai masih berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa China menolak penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional dan menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mendesak semua pihak menahan diri dan mematuhi hukum internasional.
Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menyatakan bahwa pembelaan diri secara antisipatif tidak diperbolehkan dalam hukum internasional.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, mengecam kedua belah pihak. Ia menyebut serangan Iran ke negara-negara Teluk juga tidak dapat diterima dan meminta dunia, terutama negara-negara Islam, bertindak untuk mencegah penderitaan lebih luas.
Uni Emirat Arab (UEA) mengungkapkan sedikitnya 137 rudal dan 209 drone ditembakkan ke wilayahnya oleh Iran, sebagian besar berhasil dicegat. Kementerian Pertahanan UEA menyatakan dalam siaga tinggi dan siap menghadapi ancaman apa pun.
Qatar turut mengecam serangan Iran ke Jordania, Arab Saudi, Kuwait, UEA, dan Bahrain, serta menyatakan solidaritas terhadap negara-negara tersebut dalam menjaga kedaulatan.
Di dalam negeri AS, serangan terhadap Iran juga menuai kritik. Senator dari Massachusetts, Elizabeth Warren, mengecam kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai berisiko menyeret AS ke perang berkepanjangan. Ia mendesak Senat menggelar pemungutan suara untuk mencegah eskalasi konflik.
Aksi demonstrasi menentang perang juga digelar di Los Angeles dan sejumlah kota lainnya.
Wali Kota New York, Zohran Mamdani, menyebut serangan tersebut sebagai tindakan ilegal dan agresif. Ia menyampaikan solidaritas kepada warga keturunan Iran di New York dan memastikan keamanan mereka.
Konflik ini memicu kekhawatiran global akan meluasnya perang regional di Timur Tengah, dengan dampak kemanusiaan dan ekonomi yang berpotensi signifikan.
Sumber: Kompas.id/AFP/AP/Reuters


Tinggalkan Balasan