Jumat, 23 Januari 2026

Jalur Darat Tompo Bulu Jadi Opsi Utama Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung

Pencarian korban pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung (ist)

Pangkep, TrenNews.id — Tim SAR gabungan menyiapkan sejumlah skema evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang ditemukan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Dari berbagai alternatif yang disiapkan, jalur darat melalui Desa Tompo Bulu dinilai paling memungkinkan untuk proses evakuasi.

Komandan Kodim 1421 Pangkep, Letnan Kolonel TNI Bhakti Yuhandika, mengatakan evakuasi disiapkan melalui dua jalur, yakni darat dan udara. Namun, jalur darat menjadi prioritas utama mengingat kondisi medan dan cuaca yang belum mendukung operasi udara.

“Jika korban berada di sekitar puncak Bulusaraung, maka satu-satunya jalur evakuasi adalah melalui Posko Tompo Bulu. Namun bila lokasi korban lebih dekat ke jalan poros, evakuasi bisa diarahkan ke Kecamatan Balocci,” ujar Bhakti di Posko SAR Tompo Bulu, Minggu (18/1/2026).

Bhakti menjelaskan, jarak dari lokasi penemuan bangkai pesawat ke Tompo Bulu berkisar 3 hingga 3,5 kilometer. Dengan medan darat yang terjal, berbatu, dan dipenuhi tebing curam, perjalanan diperkirakan memakan waktu lebih dari tiga jam. Elevasi lokasi serpihan berada pada kisaran 700 hingga 800 meter di atas permukaan laut, sementara puncak Gunung Bulusaraung mencapai 1.353 mdpl.

Terkait evakuasi udara, Bhakti menyebut opsi tersebut masih sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan lokasi pendaratan helikopter. “Landasan heli belum memungkinkan dan cuaca sering berkabut. Namun opsi udara tetap disiapkan sesuai arahan komando atas,” katanya.

Untuk mendukung operasi di lapangan, tim SAR telah membentuk empat tim gabungan. Tim pertama atau tim aju diberangkatkan pada pukul 06.20 WITA dan berhasil menemukan serpihan pesawat yang sebelumnya terpantau dari udara. Tim kedua menyusul dengan tugas utama evakuasi, namun pergerakannya sempat terkendala cuaca.

Sementara itu, tim ketiga dan keempat disiagakan untuk menyisir jalur alternatif dari bawah, termasuk jalur poros menuju Balocci sebagai opsi evakuasi tambahan.

Hingga Minggu siang, tim SAR belum menemukan korban, baik dalam kondisi utuh maupun potongan tubuh. Temuan di lapangan masih terbatas pada serpihan pesawat, termasuk bagian ekor dan jendela.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menyatakan pencarian masih terus dilakukan sembari menunggu cuaca membaik.

“Helikopter masih berupaya mencari jalur terdekat untuk menurunkan tim evakuasi. Namun kondisi Bulusaraung yang berkabut memaksa tim menunggu cuaca memungkinkan,” ujarnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan cuaca berubah-ubah, mulai dari kabut tebal, hujan, hingga cerah dalam waktu singkat. Kondisi ini menyulitkan tim, terutama dalam operasi vertikal menuju lokasi serpihan yang berada sekitar 500 meter dari puncak gunung.

Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 yang membawa 10 orang dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Serpihan pesawat pertama kali terdeteksi melalui pencarian udara sebelum akhirnya ditemukan di kawasan Gunung Bulusaraung.

Nisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini