Jumat, 23 Januari 2026

Kronologi Lengkap Hilangnya hingga Ditemukannya Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung

Tampilan pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport. (Ist)

Pangkep, TrenNews.id — Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak saat mendekati Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Setelah dilakukan operasi pencarian intensif, badan dan ekor pesawat serta satu korban berhasil ditemukan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Minggu (18/1/2026).

Pesawat ATR 42-500 tersebut berangkat dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta dengan tujuan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Berdasarkan keterangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, pada pukul 04.23 waktu universal terkoordinasi (UTC), pesawat diarahkan oleh Air Traffic Controller (ATC) Makassar Air Traffic Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu (runway) 21.

Dalam proses pendekatan, ATC mendeteksi bahwa pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang semestinya. ATC kemudian memberikan instruksi koreksi posisi dan arahan lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur.

Namun, setelah instruksi terakhir disampaikan, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus. Pesawat kemudian dinyatakan hilang kontak.

Menindaklanjuti hilangnya komunikasi, ATC Makassar mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase). AirNav Indonesia Cabang MATSC segera berkoordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat, Basarnas Makassar, TNI, Polri, dan unsur terkait lainnya.

Pencarian awal difokuskan di wilayah Pegunungan Karst Bantimurung, Kabupaten Maros, yang diduga sebagai area terakhir hilangnya kontak pesawat. Operasi pencarian dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter serta jalur darat oleh tim SAR gabungan.

Kementerian Perhubungan memastikan pesawat yang hilang kontak merupakan ATR 42-500 buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611, dioperasikan oleh Indonesia Air Transport selaku pemegang AOC 034. Pesawat dipiloti oleh Kapten Andy Dahananto.

Dalam manifes penerbangan, pesawat mengangkut 3 penumpang dan 7 kru. Pesawat tersebut diketahui disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Setelah pencarian berlanjut sepanjang Sabtu hingga Minggu pagi, Basarnas Makassar mengonfirmasi penemuan badan dan ekor pesawat pada Minggu (18/1/2026) pukul 07.49 WITA.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menyampaikan bahwa badan dan ekor pesawat ditemukan di lereng selatan puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.

Selain itu, kru helikopter SAR juga mengidentifikasi serpihan kecil berupa jendela pesawat di koordinat 04°55’48” LS – 119°44’52” BT.

Pasca penemuan puing utama pesawat, Basarnas segera memberangkatkan Tim Advance Jungle Unit (AJU) untuk menuju lokasi dan melakukan upaya awal evakuasi serta pengamanan area.

Namun, proses evakuasi menghadapi kendala medan ekstrem, lereng terjal, serta kabut tebal yang membatasi jarak pandang dan pergerakan tim.

Untuk alasan keselamatan, tim SAR memutuskan menggunakan jalur pendakian Gunung Bulusaraung sebagai jalur utama evakuasi, meski membutuhkan waktu tempuh lebih lama.

Masih pada Minggu (18/1/2026), tim SAR gabungan menemukan satu korban di kawasan Gunung Bulusaraung. Informasi tersebut dibenarkan oleh Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko di Posko SAR Balocci, Pangkep.

Korban ditemukan di lereng sisi utara puncak Gunung Bulusaraung, tepatnya di area jurang yang sulit dijangkau.

Hingga saat ini, identitas dan kondisi korban belum diumumkan secara resmi.

Setelah penemuan korban, tim SAR langsung melakukan proses evakuasi menuju posko induk di Desa Tompo Bulu. Evakuasi dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan keselamatan personel, mengingat kondisi medan yang sangat berat.

Sekitar 500 personel SAR gabungan dari berbagai unsur diterjunkan dalam operasi pencarian dan evakuasi.

Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung. Tim SAR masih melakukan penyisiran lanjutan di sekitar lokasi temuan untuk memastikan kemungkinan adanya korban lain serta mengamankan seluruh bagian pesawat.

Penyebab pasti kecelakaan belum dapat dipastikan dan menunggu hasil investigasi resmi dari otoritas penerbangan.

Arman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini