Wacana Peralihan MBG ke Kantin, SPPG Nilai Ancam Rantai Pasok dan Ribuan Relawan
Aceh Singkil, TrenNews.id — Rencana pemerintah mengalihkan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke kantin sekolah dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditolak mentah-mentah oleh para mitra di daerah.
Di Kabupaten Aceh Singkil, penolakan paling keras datang dari pengelola dapur SPPG yang selama ini jadi ujung tombak penyaluran MBG.
Penanggung Jawab Operasional (PIC) dapur SPPG Yayasan Nasabe Sajan Yatim, Desa Bukit Harapan, Gunung Meriah, Ahmad Hariono menyebut wacana itu tidak adil.
“Wacana mengalihkan peran operasional ke kantin sekolah adalah langkah yang tidak memperhitungkan kontribusi para mitra di lapangan,” tegas Hariono, Senin (14/9/2026).
Ia menilai kebijakan itu berpotensi merugikan banyak pihak. Mulai dari pengelola dapur, relawan, hingga vendor dan UMKM lokal yang selama ini jadi tulang punggung pasokan bahan makanan MBG.
Ribuan Relawan dan UMKM Terancam
Menurut Hariono, dampaknya tidak main-main. Jika dapur SPPG dialihkan, maka rantai pasok yang sudah terbangun rapi di Gunung Meriah dan sekitarnya bisa runtuh.
“Jika skemanya diubah, banyak relawan yang kehilangan peran. Vendor dan UMKM lokal yang selama ini jadi penyedia bahan makanan juga akan terdampak secara ekonomi,” ujarnya.
Selama ini dapur SPPG memang sengaja dibangun berbasis kemitraan. Tujuannya jelas, memberdayakan ekonomi warga sekitar agar perputaran uang MBG tidak keluar daerah.
Nilai Langkah Mundur, Efisiensi Diragukan
Selain persoalan sosial ekonomi, Hariono juga menyorot sisi teknis. Tata kelola SPPG saat ini, katanya, sudah berjalan dan terus dibenahi agar semakin optimal.
Justru pengalihan ke kantin sekolah dinilai sebagai langkah mundur. “Kalau wacana ini terealisasi, Program MBG yang sudah berjalan lancar meski terus pembenahan, ke depan harus mengulang prosesnya dari nol lagi,” tegasnya.
Ia juga meragukan jaminan mutu jika pengelolaan diserahkan ke kantin sekolah. “Belum tentu hasilnya lebih baik dari sistem yang sekarang,” katanya.
Hingga saat ini para pengelola SPPG di Aceh Singkil berharap pemerintah pusat dan daerah membatalkan rencana tersebut.
Mereka meminta skema kemitraan tetap dipertahankan. Karena selain menyalurkan gizi, MBG juga terbukti menghidupkan ekonomi masyarakat dan UMKM lokal.
“BGN saya kira sangat paham. Jika MBG dialihkan ke kantin sekolah, artinya program ini akan mengulang pekerjaan dari awal kembali. Kita juga harus ingat, membangun fasilitas SPPG, pelatihan relawan serta izin-izin yang diperlukan untuk operasional dapur tidak mudah dan tidak cepat ,” tutup Hariono.
Pewarta: Arman Munthe



Tinggalkan Balasan