Minggu, 26 April 2026

Elisabet (66) Harus Berjalan 300 Meter Setiap Hari Bawa Jerigen Air Keruh

 Elisabet Nijul(66) berjuang berjalan kaki 300 meter setiap hari demi mendapatkan akses air minum bersih.

Ruteng, TrenNews.id – “Kami hanya butuh air bersih. Kami berharap tuntutan ini didengar,” ujar Yohanes H. Gohar, koordinator lapangan warga Desa Para Lando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai.

Di balik besarnya anggaran proyek air bersih yang digelontorkan pemerintah sebesar hampir Rp1 miliar, kenyataan di lapangan menyisakan ironi yang menusuk hati. Setiap hari, lansia seperti Elisabet Nijul (66 tahun) harus berjalan sekitar 300 meter menuju sumur di area persawahan, memikul tiga jerigen besar di pundak dan satu di tangan – air yang ia dapatkan keruh, jauh dari standar layak konsumsi.

Jalanannya pelan, tertatih, namun penuh keteguhan. Air yang Elisabet ambil jelas tidak layak digunakan, tetapi tetap menjadi satu-satunya pilihan karena tidak ada sumber lain yang tersedia.

Di usia senja, perjuangannya bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga melawan keterbatasan fisik yang kian terasa. Ia tidak sendiri – suaminya yang berusia 75 tahun juga turut bergantian menimba air, saling menopang dalam kondisi yang serba terbatas.

Pemandangan ini menjadi kontras tajam dengan harapan warga ketika proyek peningkatan Instalasi Pengolahan Air (IPA) melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) mulai dikerjakan oleh CV Wela Tedeng pada 2025. Proyek yang digadang-gadang akan menghadirkan air bersih langsung ke rumah-rumah warga, namun hingga kini janji itu belum sepenuhnya terwujud.

Alih-alih membawa solusi, proyek tersebut malah membuat sebagian warga kehilangan akses air yang sebelumnya mereka nikmati melalui program Pamsimas. Setidaknya 22 rumah tangga masih belum mendapatkan pasokan air bersih, sementara yang lain harus menerima air yang seringkali keruh, terutama saat musim hujan tiba.

“Yang dulu sudah dapat air, sekarang tidak dapat lagi,” ungkap Yohanes.

Menurutnya, perubahan sumber air dari Wae Wudak ke Wae Pogo diduga menjadi salah satu penyebab terganggunya distribusi. Selain itu, air yang berhasil mengalir ke rumah warga pun tidak memenuhi standar kebersihan, semakin memperdalam kekecewaan masyarakat.

Situasi semakin memanas setelah muncul dugaan kurangnya transparansi dalam proses pengusulan proyek. Kepala Desa Para Lando, Lemen Agustinus, disebut membantah keterlibatannya saat audiensi dengan pemerintah daerah pada 21 April 2026 – padahal usulan proyek diyakini berasal dari mekanisme musyawarah desa.

Pernyataan tersebut membuat audiensi yang berlangsung sempat memanas. Sorakan kemarahan warga terdengar ketika perbedaan pernyataan antara pemerintah daerah dan kepala desa muncul ke permukaan, mencerminkan kekecewaan yang telah lama terpendam.

Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Manggarai memang telah melakukan survei ulang pada 17 Maret 2026. Namun, warga menilai langkah tersebut belum menyentuh akar persoalan.

Survei disebut hanya berfokus pada sumber air Wae Wudak, tanpa peninjauan menyeluruh terhadap sistem distribusi dari Wae Pogo. Minimnya penjelasan teknis dan tidak adanya kepastian waktu penyelesaian semakin memperkuat ketidakpercayaan warga.

Keluhan warga akhirnya sampai ke meja Bupati Manggarai, Nabit, dalam audiensi di Kantor Bupati. Ia langsung memberikan janji untuk menindaklanjuti persoalan tersebut secara serius.

“Saya akan panggil kepala desa karena usulan ini antara lain dari desa. Kalau dia mengatakan tidak tahu, saya akan marah,” tegasnya dengan nada tegas.

Pemerintah daerah juga membuka kemungkinan melakukan survei ulang terhadap sumber air lain yang lebih potensial, serta mencari solusi konkret bagi 22 rumah tangga yang belum terlayani.

Warga telah menyampaikan serangkaian tuntutan yang harus dipenuhi pemerintah daerah:

1. Menetapkan jadwal pasti penyelesaian proyek, khususnya bagi 22 rumah yang belum terlayani
2. Melakukan perbaikan menyeluruh terhadap sistem instalasi, tidak hanya sebatas survei
3. Menyampaikan penjelasan teknis secara terbuka kepada masyarakat
4. Memberikan jawaban resmi tertulis yang memuat jadwal, rencana kerja, dan pihak penanggung jawab
5. Melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan tidak ada kelalaian yang merugikan masyarakat

Hingga kini, warga masih menunggu langkah nyata dari pemerintah. Di balik angka-angka anggaran yang besar, ada cerita-cerita sunyi tentang perjuangan setiap hari – tentang langkah-langkah kecil yang ditempuh oleh orang-orang seperti Elisabet, yang terus bertahan di tengah ketidakpastian. (Kordian)

Sumber Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini