Kaluku Sultra Ikuti Kompetisi Ekonomi Sirkular Sultra MAIMO 2026, Usung Hilirisasi Kelapa dari VCO hingga Cocofiber
Kendari, TrenNews.id – Kelompok Kaluku Sultra turut ambil bagian dalam Kompetisi Model Bisnis Ekonomi Sirkular – Sultra MAIMO 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara dengan mengusung inovasi pemanfaatan kelapa dan produk turunannya melalui konsep ekonomi sirkular.
Kaluku Sultra diketuai Maryanto, didampingi Anjar Wahyu Widianto sebagai sekretaris dan Sanda Hasriani, S.E. sebagai bendahara. Kelompok ini membawa gagasan pemanfaatan kelapa secara terpadu agar setiap bagian komoditas tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus meminimalkan limbah.
Sejumlah produk unggulan yang dikembangkan antara lain kerajinan berbahan tempurung kelapa, Virgin Coconut Oil (VCO), pemanfaatan ampas kelapa, cocopeat, cocofiber, serta pupuk organik cair berbahan air kelapa.
Ketua Kaluku Sultra, Maryanto, mengatakan keikutsertaan dalam kompetisi tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan potensi kelapa sebagai komoditas yang dapat dikembangkan melalui pendekatan ekonomi sirkular.
“Keikutsertaan Kaluku Sultra dalam Kompetisi Model Bisnis Ekonomi Sirkular Sultra MAIMO 2026 menjadi kesempatan bagi kami untuk menunjukkan bahwa kelapa dapat dimanfaatkan secara menyeluruh dan memiliki nilai ekonomi. Mulai dari daging, tempurung, sabut, ampas hingga air kelapa dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai jual,” kata Maryanto, Selasa (28/7/2026).
Sementara itu, Sekretaris Kaluku Sultra, Anjar Wahyu Widianto, mengatakan salah satu fokus yang ingin diperkenalkan melalui kompetisi tersebut adalah produk turunan sabut kelapa berupa cocopeat dan cocofiber.
Menurut Anjar, pengembangan produk tersebut tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan limbah, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan produk yang memiliki nilai tambah dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di sektor pertanian.
“Kami ingin memperkenalkan produk kelapa dan berbagai turunannya, khususnya cocopeat dan cocofiber sebagai media tanam yang murah dan berkualitas. Potensi kelapa yang kita miliki harus mampu dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan manfaat ekonomi,” ujar Anjar.
Ia menjelaskan, pengembangan Kaluku Sultra juga diarahkan untuk mendukung program pemerintah dalam mendorong hilirisasi komoditas kelapa. Dengan pengolahan di tingkat lokal, kelapa diharapkan tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat menghasilkan berbagai produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kami ingin ikut mendukung program pemerintah dalam hilirisasi kelapa. Dengan hilirisasi, komoditas kelapa bisa memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus membuka peluang pengembangan usaha bagi masyarakat,” jelasnya.
Selain pengembangan produk, Kaluku Sultra juga menargetkan terbentuknya jaringan pasar, pendanaan, serta kemitraan dengan berbagai pihak untuk memperkuat keberlanjutan model bisnis yang dikembangkan.
“Target berikutnya adalah membangun jaringan pasar, fundraising atau pendanaan, serta kemitraan dengan berbagai pihak. Kami berharap melalui kompetisi ini akan terbuka jejaring yang lebih luas sehingga produk-produk Kaluku Sultra dapat berkembang dan memiliki pasar yang berkelanjutan,” kata Anjar.
Konsep ekonomi sirkular yang dikembangkan Kaluku Sultra berupaya memanfaatkan bagian kelapa secara optimal. Tempurung kelapa dapat dikembangkan menjadi kerajinan, daging kelapa diolah menjadi VCO, sedangkan sabutnya menjadi cocopeat dan cocofiber. Air kelapa juga dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik cair, sementara ampas kelapa kembali diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Kompetisi Model Bisnis Ekonomi Sirkular Sultra MAIMO 2026 diperuntukkan bagi UMKM yang berdomisili di Sulawesi Tenggara, memiliki usaha aktif minimal satu tahun, dan membentuk tim maksimal tiga orang. Bidang usaha yang dapat mengikuti kompetisi meliputi ketahanan pangan, makanan dan minuman olahan, serta penunjang pariwisata seperti kriya, wastra, dan desa wisata.
Pendaftaran dan pengumpulan Business Model Canvas berlangsung pada 20–26 Juli 2026. Kompetisi tersebut mendorong lahirnya UMKM yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan, dengan kesempatan memperoleh hadiah total mencapai puluhan juta rupiah bagi peserta terbaik.
Anjar berharap Kaluku Sultra mampu memberikan hasil terbaik dalam kompetisi sekaligus menjadikan momentum tersebut sebagai jalan untuk membawa produk turunan kelapa Sulawesi Tenggara ke pasar yang lebih luas.
“Harapan kami tentu dapat memenangkan kompetisi ini. Namun yang tidak kalah penting, kami ingin gagasan ekonomi sirkular berbasis kelapa ini terus berkembang, mendapatkan dukungan dan kemitraan, serta memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat Sulawesi Tenggara,” pungkas Anjar.


Tinggalkan Balasan