Sabtu, 17 Oktober 2026

ISPA Mewabah, BPBD Sumut Pingsan? PW ISARAH Sumut Sebut Kantor Penanggulangan Bencana Mirip Sanggar Yoga

ISPA Mewabah, BPBD Sumut Pingsan? PW ISARAH Sumut Sebut Kantor Penanggulangan Bencana Mirip Sanggar Yoga

Medan, TrenNews.id – ISPA Mewabah, BPBD Sumut Pingsan? PW ISARAH Sumut Sebut Kantor Penanggulangan Bencana Mirip Sanggar Yoga, Di tengah kepungan polusi udara dan kabut asap kiriman yang kian pekat membelenggu Provinsi Sumatera Utara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut tampaknya berhasil menemukan cara terbaik menghadapi krisis: tidur nyenyak dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Ketika ribuan warga Sumatera Utara berjuang mengolah oksigen yang tercemar racun akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) provinsi tetangga, BPBD Sumut dinilai sukses memperagakan ketenangan tingkat tinggi—atau yang dalam bahasa awam lebih tepat disebut sebagai pembiaran masif.

Sikap dingin dan terkesan “mandul” dari instansi penanggulangan bencana tersebut menuai kecaman menohok dari Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Al Washliyah Sumatera Utara (PW ISARAH Sumut). Melalui pimpinannya, PW ISARAH menilai BPBD Sumut tak ubahnya penonton bioskop yang menikmati drama penderitaan rakyat dari balik meja kerja yang sejuk.

“BPBD Sumut Tidur! Jangan Cuma Duduk Manis”

Wakil Sekretaris PW ISARAH Sumut, Muhammad Yasir Ramli, SH., MH., tidak lagi menyembunyikan kekecewaannya. Dengan nada geram, ia mempertanyakan keberadaan dan fungsi nyata BPBD di saat rakyat mulai tumbang satu per satu akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

“BPBD Sumut tidur! Rakyat sudah sesak napas, kok masih diam! Polusi udara kiriman akibat kebakaran hutan dari provinsi lain ini sudah nyata-nyata bencana! Mana kerja nyata BPBD? Mana langkah ke masyarakat? Jangan cuma duduk manis di kantor!” tegas Yasir Ramli.

Ia membeberkan bahwa fenomena langit mendung abu-abu yang menghiasi Sumut belakangan ini bukanlah romantisme cuaca, melainkan tumpukan racun yang mengancam keselamatan jiwa. Namun sayang, sinyal darurat yang dirasakan masyarakat tampaknya gagal menembus tembok tebal kantor BPBD Sumut.

Fasilitas Kesehatan Meluap, Respon Pemerintah Masih ‘Lelet’

Fakta di lapangan menggambarkan situasi yang makin jauh dari kata baik-baik saja. Lonjakan penderita ISPA dilaporkan terjadi secara eksponensial di berbagai penjuru daerah.

“Jangan pura-pura tidak tahu! ISPA sudah mewabah! Pemerintah tidak boleh berpangku tangan melihat masyarakatnya sakit! Ini kelalaian yang tidak bisa ditolerir!” sindir Yasir.

Menurut pemantauan tim PW ISARAH Sumut, kondisi kesehatan masyarakat kini berada pada fase darurat yang memprihatinkan. Rumah sakit dan klinik kesehatan disadap gelombang pasien dari kalangan rentan—terutama anak-anak dan lansia—yang saluran pernapasannya terganggu.

“Lihat! Rumah sakit penuh! Klinik-klinik penuh sesak oleh pasien ISPA! Anak-anak, orang tua, semua jadi korban! Kalau BPBD masih lelet, mau tunggu berapa banyak lagi warga Sumut yang tumbang baru mau bergerak?!” lanjutnya dengan nada menyengat.

Menanti Aksi Nyata: Dari Masker Gratis Hingga Evaluasi Jabatan

PW ISARAH Sumut mendesak Gubernur Sumatera Utara untuk tidak tinggal diam dan segera memanggil serta mengevaluasi jajaran pimpinan BPBD Sumut dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumut. Sebab, menghadapi bencana asap tidak cukup hanya dengan memantau aplikasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tanpa tindakan nyata di lapangan.

PW ISARAH menuntut langkah konkret mendesak, seperti:

  • Aksi Reaksi Cepat: Pengadaan dan pembagian masker gratis standar medis secara masif kepada masyarakat terdampak.

  • Posko Kesehatan Darurat: Dinas Kesehatan Provsu harus segera mendirikan posko pelayanan kesehatan gratis di titik-titik krusial, bukan menunggu korban bertambah.

  • Koordinasi Lintas Daerah: Langkah diplomasi dan intervensi tegas terhadap penanganan kabut asap kiriman.

“Ini bukan polusi biasa, ini bencana kiriman! Ini hasil kebakaran hutan di luar Sumut yang asapnya kita yang hirup! BPBD harus reaksi cepat, jangan tunggu instruksi! Lakukan pemadaman kabut asap, bagikan masker gratis, dan Dinkes Provsu seharusnya sudah membuka posko kesehatan! Jangan biarkan rakyat Sumut mati pelan-pelan menghirup racun!” pungkas Yasir.

Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Warga Sumut menantikan apakah BPBD akan segera “terbangun dari pingsannya” untuk membagikan masker dan mendirikan posko, atau justru memilih melanjutkan mimpi indahnya sembari membiarkan warga terus menyaring racun menggunakan paru-paru mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini