Harga Semen Tembus Rp75 Ribu per Sak, ISARAH Sumut Desak Bobby Nasution Intervensi Pasar
Medan, TrenNews.id — Harga Semen Tembus Rp75 Ribu per Sak, ISARAH Sumut Desak Bobby Nasution Intervensi Pasar, Lonjakan harga bahan bangunan di Sumatera Utara terus memicu keluhan publik. Menanggapi tingginya harga semen yang kian membebani masyarakat, Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Al Washliyah (ISARAH) Sumatera Utara secara tegas mendesak Gubernur Sumut, Bobby Nasution, untuk segera mengambil langkah intervensi pasar.
Ketua PW ISARAH Sumut, Abdul Thaib Siahaan, menilai kenaikan harga bahan bangunan utama ini berpotensi menghambat pembangunan fisik warga serta memperberat kondisi ekonomi masyarakat kecil yang tengah membangun atau memperbaiki tempat tinggal.
“Kami meminta Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution untuk intervensi harga semen. Jangan sampai masyarakat yang ingin membangun justru semakin terbebani karena harga bahan bangunan yang tidak terkendali,” tegas Abdul Thaib, Sabtu (5/9/2026).
Menurut catatan ISARAH Sumut, harga semen di tingkat toko bahan bangunan (panglong) saat ini telah menyentuh angka sekitar Rp75.000 per sak untuk kualitas paling dasar. Angka ini dinilai sudah di luar batas rasional kemampuan daya beli masyarakat luas.
“Harga semen yang tinggi ini menjadi salah satu indikator tekanan inflasi yang dirasakan langsung masyarakat. Pemerintah jangan hanya melihat angka inflasi di atas kertas, tetapi harus melihat apa yang terjadi di pasar,” ujarnya.
Dugaan Permainan Rantai Distribusi
Selain faktor produksi, ISARAH Sumut menduga lonjakan harga juga dipicu oleh masalah pada alur distribusi dari pabrik hingga ke pengecer. Abdul Thaib meminta Pemprov Sumut dan aparat terkait menelusuri secara transparan harga dari tingkat produsen, distributor, hingga toko bahan bangunan untuk mengikis dugaan praktik mafia distribusi.
“Kami menduga ada permainan dalam distribusi semen ke panglong-panglong. Kalau memang tidak ada permainan, pemerintah harus berani membuka dan mengawasi mata rantai distribusinya. Semuanya harus transparan,” kata Abdul Thaib.
Ia mengimbau Pemprov Sumut serta BUMN di bidang semen tidak sekadar menjadi penonton. Langkah koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan produsen dinilai mendesak dilakukan agar rantai pasok kembali normal dan harga dapat ditekan ke taraf yang wajar.
“Masyarakat tidak meminta harga yang tidak masuk akal. Mereka hanya meminta harga yang wajar dan terjangkau. Di situlah pemerintah harus hadir,” pungkasnya.



Tinggalkan Balasan