Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Mengguncang Labuan Bajo
Labuan Bajo, TrenNews.id – Sebuah kasus yang memilukan kembali mencuat dari wilayah Manggarai Barat, di mana seorang kepala desa aktif diduga melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya. Dugaan ini melibatkan Venseslaus Jumaidela, seorang kepala desa di Kecamatan Pacar, yang dilaporkan telah melakukan penganiayaan terhadap istrinya, Teresia Fian.
Menurut keterangan korban, kejadian terbaru terjadi akibat hal sepele: memasak nasi terlalu banyak. Teresia mengaku dipukul hingga menyebabkan luka lebam di mata dan wajah. Lebih lanjut, dia menyatakan bahwa peristiwa serupa telah berulang kali dialaminya selama bertahun-tahun.
“Dia memarahi saya karena masak nasi terlalu banyak. Dia mengambil sebilah parang, mengejar, lalu memukul saya,” ujar Teresia kepada Trennews.id, Senin (13/1/2025).
Kejadian ini memaksa Teresia mencari perlindungan di kampung halamannya. Namun, trauma mendalam tetap menghantui korban, terutama karena ancaman yang sering diterimanya.
Anak korban, Sindi Cenora Julianti Jumaidela, memberikan kesaksian bahwa kekerasan tersebut bukanlah hal baru. Bahkan, saat Sindi pulang ke rumah pada November 2024, ia menyaksikan langsung ibunya dianiaya oleh sang ayah hanya karena permasalahan sepele terkait makanan.
“Bapa seringkali memaki dan hendak memukul mama. Ini sudah terjadi sejak kami SMP,” kata Sindi.
Meski demikian, Sindi berharap persoalan ini bisa diselesaikan secara damai, tanpa melibatkan penjara. Ia menekankan bahwa perubahan sikap ayahnya adalah hal yang paling diharapkannya.
Di sisi lain, Kepala Desa Venseslaus Jumaidela membantah tuduhan tersebut. Ia mengklaim bahwa dirinya hanya menegur istrinya secara keras dan menyangkal menggunakan kekerasan fisik atau ancaman senjata.
“Saya tidak pukul dia. Luka lebam itu karena dia jatuh setelah saya dorong,” ujar Jumaidela.
Ia juga menyinggung adanya kemungkinan gangguan psikologis pada istrinya sebagai pemicu permasalahan di rumah tangga mereka.
Kasus ini menyoroti tantangan besar dalam penanganan KDRT, terutama di wilayah dengan sistem hukum dan budaya yang seringkali kurang mendukung korban. Teresia mengaku tidak berani melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib karena ancaman pembunuhan dari suaminya.
Namun, hukum harus menjadi tempat perlindungan, bukan momok yang menakutkan bagi korban. Dalam kasus ini, dukungan keluarga, masyarakat, dan penegak hukum sangat diperlukan untuk memberikan keadilan kepada Teresia dan mencegah kejadian serupa terulang.
Kekerasan dalam rumah tangga bukanlah urusan privat, melainkan pelanggaran hak asasi manusia. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk melindungi korban dan menciptakan lingkungan yang aman bagi mereka. Kasus ini menjadi pengingat bahwa perubahan dimulai dari kesadaran bersama untuk menentang segala bentuk kekerasan.
Mari kita terus memperjuangkan keadilan dan perlindungan untuk korban KDRT di mana pun mereka berada.
Pewarta : Kordianus Lado
Editor : Andi
Tinggalkan Balasan