Antrean SPBU Mengular ISARAH Sumut Desak Kapolda Turunkan Personel Cegah Kerusuhan
Medan, TrenNews.id — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berujung pada pengumuman penutupan kembali Selat Hormuz “hingga pemberitahuan lebih lanjut” mulai memicu reaksi berantai di tingkat daerah. Di Sumatra Utara, riak dari sentimen global tersebut mulai terlihat dengan adanya peningkatan volume kendaraan yang mengantre di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Merespons fenomena ini, Ketua Ikatan Sarjana Al Washliyah (ISARAH) Sumatra Utara, Abdul Thalib Siahaan, S.T., M.Ikom., mengeluarkan imbauan tegas kepada Kepala Kepolisian Daerah Sumatra Utara (Kapolda Sumut) untuk segera mengambil langkah preventif guna menjaga ketertiban masyarakat.
Desakan Tindakan Preventif Kepolisian
Berbicara kepada media di Medan, Abdul Thalib menyampaikan bahwa per hari ini (13/7), terjadi lonjakan antrean kendaraan yang cukup signifikan di berbagai titik pengisian bahan bakar. Menurutnya, jika kondisi ini dibiarkan terus mengular tanpa pengawasan ketat, potensi gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) sangat besar.
“Kami melihat ada indikasi kecemasan di masyarakat yang memicu antrean lebih panjang dari biasanya. Kepada Yth. Bapak Kapolda Sumatra Utara beserta jajaran, kami menghimbau agar segera menurunkan personel kepolisian untuk melakukan pengamanan dan pengawasan langsung di SPBU-SPBU strategis,” ujar Abdul Thalib.
Dirinya menekankan bahwa kehadiran fisik aparat kepolisian di lapangan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberikan rasa aman, mengatur lalu lintas agar tidak macet total, serta mengantisipasi adanya tindakan spekulatif seperti penimbunan BBM oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Latar Belakang Global: Isu Penutupan Selat Hormuz
Antrean yang terjadi disinyalir kuat merupakan dampak psikologis (panic buying) setelah beredarnya berita mengenai penutupan total jalur pelayaran internasional Selat Hormuz. Jalur laut sempit yang memisahkan Iran dan Oman tersebut merupakan urat nadi energi dunia, di mana hampir seperlima (sekitar 20%) pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global melintas setiap harinya.
Penutupan jalur ini secara instan memicu kekhawatiran meroketnya harga minyak dunia hingga menembus angka psikologis baru di pasar internasional, yang kemudian direspons secara reaktif oleh sebagian konsumen di daerah dengan mengisi penuh tangki kendaraan mereka secara bersamaan.
Meskipun situasi global memanas, Abdul Thalib Siahaan menyatakan optimisme yang tinggi terhadap ketahanan domestik. Ia meyakini bahwa fundamental ekonomi dan cadangan strategis energi Indonesia saat ini jauh lebih siap menghadapi guncangan eksternal dibandingkan masa-masa krisis sebelumnya.
“Secara global memang ada tekanan, padahal saya pribadi sangat yakin Indonesia dapat melewati krisis minyak ini tanpa harus ada kerusuhan atau kelangkaan yang ekstrem. Struktur mitigasi energi kita sudah lebih baik. Namun, ketahanan nasional ini harus dijaga di level akar rumput melalui keseriusan Polda Sumut dalam menangani potensi gesekan sosial di lapangan,” tambahnya.


Tinggalkan Balasan