Kamis, 30 Juli 2026

Jaga Lahan Gambut Tetap Lembap, PTPN IV PalmCo Terapkan Zero Burning Policy Hadapi Puncak Kemarau

Antisipasi Kabut Asap di Kalimantan, PTPN IV PalmCo Tingkatkan Status Siaga Karhutla

Jakarta|TrenNews.id – Puncak musim kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena cuaca ekstrem mulai berdampak di Pulau Kalimantan. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti sejumlah wilayah, seperti yang dilaporkan terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Timur, terus mewaspadai lonjakan titik panas .

Merespons potensi meluasnya bencana karhutla, sub holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo, yang memiliki jangkauan operasional di Pulau Kalimantan, meningkatkan status kesiagaan mereka. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, memaparkan bahwa pihaknya telah memantau ketat peringatan cuaca dan memitigasi kemungkinan terburuk dari ancaman musim kemarau yang lebih kering .

“Kami sudah mewanti-wanti seluruh jajaran di lapangan jauh sebelum masuknya musim kemarau. Menghadapi potensi El Nino yang bisa mengganas, pendekatannya tidak bisa lagi reaktif untuk memadamkan api. Kita semaksimal mungkin preventif secara menyeluruh termasuk di wilayah sekitar perusahaan sejak dari fase prabencana,” ujar Jatmiko, Selasa (28/7/2026) .

Pendekatan Preventif dengan Teknologi dan Infrastruktur

Operasional PTPN IV PalmCo di Kalimantan membentang di 12 kabupaten/kota yang tersebar di empat provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Manajemen menerapkan sistem mitigasi terstruktur untuk mencegah api masuk maupun keluar dari wilayah konsesi .

Langkah preventif mencakup pemanfaatan teknologi hingga modifikasi infrastruktur agronomi di kebun. PTPN IV PalmCo kini mengintegrasikan sistem deteksi dini berbasis kecerdasan buatan (AI) yang terhubung dengan satelit pemantau hotspot. “Teknologi pemantauan ini menjadi mata perusahaan dari udara untuk memberikan peringatan dini (early warning system) secara real-time,” jelas Jatmiko .

Namun, sistem ini harus didukung oleh kesiapan infrastruktur di darat. “Kami secara ketat mengawasi sistem tata kelola air (water management), terutama di lahan gambut. Ketinggian muka air tanah dijaga agar lahan tetap lembap dan tidak mudah terbakar meski cuaca sangat terik,” tambahnya .

Zero Burning Policy dan Kolaborasi Lintas Sektor

Perusahaan secara absolut menerapkan dan mengikat seluruh mitra kerjanya pada kebijakan Tanpa Bakar (Zero Burning Policy. Jatmiko menyadari karhutla bukan hanya soal kerugian aset ekonomi, melainkan ancaman serius terhadap ekosistem dan kesehatan masyarakat luas.

“Operasional di 12 kabupaten/kota di Kalimantan bersinggungan langsung dengan masyarakat desa dan area hutan. Pengawasan ini bukan semata-mata demi mengamankan konsesi PTPN IV, tetapi bentuk tanggung jawab agar roda ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat tidak terganggu seperti pengalaman karhutla yang pernah melanda di masa lampau,” paparnya .

Keberhasilan mitigasi karhutla sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektoral. “Kami tidak bekerja sendiri. Sinergitas dengan instansi terkait seperti Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan Satgas Karhutla daerah telah terjalin kuat. Kami secara aktif menyiagakan fasilitas pemadaman untuk turut membantu jika terjadi titik api di ring luar kebun kami,” tambahnya .

Kesiagaan Taktis di Lapangan

Arahan dari tingkat pusat diterjemahkan menjadi tindakan taktis oleh PTPN IV Regional V, yang membawahi wilayah operasional di Kalimantan. Region Head PTPN IV Regional V, Sudarma Bhakti Lessan, menyampaikan bahwa status patroli lapangan telah dinaikkan menjadi 24 jam penuh di sejumlah titik rawan .

“Untuk memastikan sumber daya manusia kami siap menghadapi kondisi terburuk, kami secara berkala melakukan peningkatan kapasitas. Baru-baru ini, Regional V menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Bimtek Dalkarhutla) di Kalimantan Barat yang diikuti oleh hampir 100 karyawan dari berbagai kebun,” ungkapnya .

Para peserta Bimtek ini merupakan tim Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) yang menjadi ujung tombak perusahaan. Mereka bertugas memantau dari menara pantau api, berbaur, dan melakukan sosialisasi bersama kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa .

“Seluruh perlengkapan pemadaman mulai dari alat berat untuk membuat sekat bakar (fire break), armada tangki air, hingga mesin pompa portabel telah dicek dan dipastikan dalam kondisi siap pakai 100 persen. Kami terus berkoordinasi secara riil di lapangan dengan aparat keamanan dan otoritas terkait guna memastikan deteksi dini berjalan efektif,” tutupnya .

Ancaman karhutla di Kalimantan diprediksi masih akan berlanjut mengingat puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Kesiapan berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun korporasi, kini tengah diuji dalam menjaga langit Kalimantan agar tak terus-menerus tertutup kabut asap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini