Sabtu, 3 Oktober 2026

Hasil Malaysia 6-0 Singapura Disorot, DPR Minta PSSI Bawa Dugaan Sepak Bola Gajah ke FIFA

Keterangan Gambar : Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PAN, Muhammad Hoerudin Amin (ist)

Jakarta, TrenNews.id — Hasil pertandingan Malaysia kontra Singapura yang berakhir dengan skor telak 6-0 dalam ajang FIFA ASEAN Cup 2026 menuai sorotan. Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PAN, Muhammad Hoerudin Amin, meminta PSSI mengumpulkan bukti dan menyampaikan keberatan kepada FIFA untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran terhadap prinsip sportivitas.

Pertandingan tersebut berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Kamis (1/10/2026). Hasil laga menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap persaingan tiket final, terutama setelah produktivitas gol menjadi faktor penting dalam menentukan posisi akhir Grup A.

Hoerudin bahkan meminta FIFA melakukan investigasi menyeluruh apabila terdapat indikasi kesengajaan dalam pertandingan tersebut. Ia menilai dugaan tersebut harus diperiksa berdasarkan data dan rekaman pertandingan secara utuh, bukan hanya berdasarkan skor akhir.

“Ini bukan kebetulan yang bisa diterima akal sehat. Kalau benar ada sepak bola gajah, itu pengkhianatan terhadap sportivitas dan penghinaan terhadap Indonesia sebagai tuan rumah. FIFA tidak boleh tutup mata,” ujar Hoerudin di Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Ia meminta PSSI segera menghimpun seluruh data dan bukti pertandingan untuk kemudian disampaikan kepada FIFA melalui prosedur yang berlaku.

Produktivitas Gol Jadi Sorotan

Sorotan terhadap laga Malaysia dan Singapura tidak terlepas dari ketatnya persaingan di Grup A.

Dalam laporan sejumlah media, Indonesia dan Malaysia sama-sama mengoleksi tujuh poin. Namun, produktivitas gol menjadi pembeda dalam penentuan tim yang melaju ke partai final. Indonesia mengakhiri fase grup dengan catatan 11 gol, sedangkan Malaysia mencetak sembilan gol.

Pada pertandingan lainnya, Timnas Indonesia menang 9-2 atas Bangladesh. Dua gol Indonesia tercipta pada masa tambahan waktu dan turut menentukan keunggulan produktivitas gol Garuda.

Hoerudin menyebut keberhasilan Indonesia menuju final diraih melalui pertandingan yang menurutnya berlangsung secara sportif. Karena itu, ia meminta standar sportivitas yang sama diterapkan kepada seluruh peserta.

“Karena menang secara jujur, Indonesia berhak menuntut kejujuran yang sama dari semua pihak,” katanya.

PSSI Diminta Tidak Terburu-buru Menyimpulkan

Meski demikian, sorotan terhadap skor 6-0 tersebut belum dengan sendirinya membuktikan adanya pengaturan pertandingan.

Karena itu, Hoerudin mendorong PSSI dan FIFA melihat pertandingan secara menyeluruh dengan memeriksa rekaman pertandingan, statistik, kronologi gol, serta data lain yang relevan sebelum mengambil kesimpulan.

Langkah tersebut penting agar setiap dugaan pelanggaran dapat dibuktikan melalui proses pemeriksaan yang objektif dan sesuai regulasi.

Jika nantinya ditemukan bukti adanya kesengajaan untuk memengaruhi hasil pertandingan, Hoerudin meminta FIFA mengambil tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Ingatkan Hubungan Indonesia dengan Malaysia dan Singapura

Di sisi lain, Hoerudin mengingatkan agar persoalan sepak bola tidak berkembang menjadi konflik antarmasyarakat maupun antarnegara.

Menurutnya, Indonesia memiliki hubungan yang erat dengan Malaysia dan Singapura, termasuk dalam bidang ekonomi dan investasi.

Karena itu, apabila terdapat persoalan dalam kompetisi, penyelesaiannya harus ditempuh melalui jalur resmi organisasi sepak bola dan tidak diarahkan kepada pemain maupun suporter negara lain.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan serangan atau provokasi melalui media sosial.

Fokus ke Final

Hoerudin meminta masyarakat menyerahkan proses pemeriksaan kepada PSSI dan FIFA serta mengarahkan dukungan kepada Timnas Indonesia yang akan menjalani partai final.

“Biar PSSI dan FIFA yang bekerja. Tugas kita satu: pastikan Garuda juara di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (5/10/2026),” ujar Hoerudin.

Dengan demikian, dugaan mengenai pertandingan Malaysia kontra Singapura saat ini perlu ditempatkan sebagai persoalan yang membutuhkan pemeriksaan dan bukti, bukan sebagai kesimpulan bahwa pertandingan tersebut telah diatur.

PSSI dan FIFA menjadi pihak yang memiliki kewenangan untuk menilai apakah terdapat pelanggaran terhadap regulasi pertandingan berdasarkan bukti yang tersedia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini