Jumat, 23 Januari 2026

MQKI Internasional 2025, Menag: Bukan Sekadar Lomba, tapi Ijtihad Intelektual dan Spiritual

Keterangan Foto: Para santri mengikuti siaran langsung sambutan Menteri Agama Republik Indonesia dalam acara Kick Off Musabaqah Qira’atil Kutub Internasional (MQKI) 2025 di Pondok Pesantren As’adiyah, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Senin (7/7/2025).

Wajo, TrenNews.id – Menteri Agama Republik Indonesia menegaskan bahwa Musabaqah Qira’atil Kutub Internasional (MQKI) 2025 bukan semata ajang perlombaan membaca kitab kuning, melainkan wadah untuk menggali dan menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam klasik yang mendalam dan sarat nilai-nilai spiritualitas.

“MQKI ini bukan ajang menunjukkan siapa paling fasih berbahasa Arab, tetapi siapa yang mampu berdialog dengan teks dan menjiwai isi kitab-kitab turats. Ini tentang spiritualitas membaca, bukan sekadar kompetensi linguistik,” tegas Menteri Agama saat membuka kegiatan pra-MQKI di Pondok Pesantren As’adiyah, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Senin (7/7/2025).

Menurutnya, membaca kitab kuning bukan hanya membutuhkan konsentrasi pikiran, tetapi juga kontemplasi hati. Kitab-kitab turats, yang lahir dari rahim peradaban Islam klasik, ditulis bukan dengan emosi sesaat, melainkan dari perenungan mendalam dan laku spiritual para ulama terdahulu.

“Kitab-kitab itu tidak ditulis sekadar dengan konsentrasi, tapi lahir dari kontemplasi yang dalam. Maka, MQKI ini menjadi ruang untuk melatih kedalaman berpikir dan membangun spiritualitas dalam membaca teks,” tambahnya.

Penunjukan Pondok Pesantren As’adiyah sebagai tuan rumah MQKI Internasional pertama di luar Pulau Jawa dinilai sebagai langkah strategis. Menag menyebut As’adiyah sebagai pesantren besar yang tidak hanya tua dalam usia, tetapi juga kaya dalam kontribusi terhadap pengembangan ilmu-ilmu Islam, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

“As’adiyah bukan hanya pondok tertua di luar Jawa, tetapi juga pelopor pendidikan pesantren yang lahir dari semangat kemerdekaan dan dakwah keilmuan,” ujarnya.

Pondok Pesantren As’adiyah yang berdiri sejak 1930-an dikenal sebagai pusat kajian kitab kuning di Sulawesi dan telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia bahkan hingga mancanegara.

MQKI Internasional 2025 akan diikuti oleh 1.359 peserta dari seluruh Indonesia serta delegasi dari 10 negara sahabat, seperti Mesir, Arab Saudi, Malaysia, Brunei Darussalam, Maroko, hingga India. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pesantren Indonesia tidak hanya menjadi benteng keislaman nasional, tetapi juga telah mendapat tempat dalam peta keilmuan Islam global.

Menurut Menag, MQKI merupakan salah satu upaya konkret untuk meneguhkan pesantren sebagai pilar utama moderasi beragama. Melalui kitab kuning, nilai-nilai wasathiyah (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) ditanamkan kepada generasi muda santri secara kontekstual.

“Semoga MQKI ini melahirkan generasi yang tidak hanya cakap dalam ilmu, tetapi juga berakhlak, arif, dan berdaya spiritual tinggi. Karena ke depan, dunia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak,” tutup Menteri Agama.

Pewarta: Asse

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini