Jumat, 10 April 2026

Strategi Dekarbonisasi PalmCo: Groundbreaking 8 Unit CBG Baru Dimulai Tahun Ini

PalmCo Percepat Proyek Gas Biomethane dari Limbah Sawit, Dorong Ketahanan Energi dan Tekan Emisi

Jakarta,TrenNews.id – PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mempercepat langkah penguatan ketahanan energi nasional melalui pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG). Inovasi berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) ini diproyeksikan menjadi jawaban atas penurunan produksi gas bumi nasional sekaligus menekan emisi karbon secara signifikan.

Pada tahun 2026 ini, PalmCo memprioritaskan pelaksanaan groundbreaking delapan unit fasilitas CBG baru dari total 17 proyek yang direncanakan. Saat ini, satu unit infrastruktur tersebut telah memasuki tahap konstruksi.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga membangun ekosistem energi hijau yang terintegrasi.

“Fokus kami adalah memastikan integrasi dari hulu ke hilir—mulai dari produksi, distribusi, hingga kepastian pasar melalui skema offtaker,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Mengubah Polutan Menjadi Energi

Dengan mengelola 68 pabrik kelapa sawit yang memproses sekitar 12 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun, PalmCo menghasilkan sekitar 7,2 juta ton limbah cair POME. Selama ini, limbah tersebut merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di industri sawit, yakni sekitar 44 persen dari total emisi pabrik.

Melalui teknologi methane capture dan upgrading, limbah cair ini diolah menjadi biometana dengan kadar metana di atas 95 persen. Hasil akhirnya adalah CBG yang memiliki kualitas setara dengan Compressed Natural Gas (CNG) dan siap digunakan sebagai substitusi gas alam.

“Pengolahan ini sangat signifikan. Selain menekan emisi hingga 200 kg $CO_2$ ekuivalen per meter kubik, proyek ini juga menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan,” tambah Jatmiko.

Target Ekonomi dan Lingkungan

Langkah dekarbonisasi ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). PalmCo menargetkan optimalisasi 40-an pabrik kelapa sawit pada 2030 untuk berbagai proyek energi baru terbarukan (EBT), mulai dari biometana hingga pembangkit listrik biomassa.

Secara angka, inisiatif ini menjanjikan dampak yang impresif:

  • Penurunan Emisi: Diprediksi mencapai 230.000 ton $CO_2$ ekuivalen pada 2026, dan melonjak hingga 0,9 juta ton pada 2030.

  • Nilai Tambah: Terjadi peningkatan nilai ekonomi hingga 22 kali lipat dibanding skema konvensional.

  • Pendapatan: Potensi pemasukan tambahan mencapai Rp42,5 miliar per tahun melalui skema bagi hasil dan penjualan kredit karbon.

Distribusi dan Rantai Pasok

Untuk memastikan gas hijau ini sampai ke pengguna, PalmCo telah menggandeng PT Pertagas sebagai pembeli (offtaker) dengan skema Free on Board (FOB). Produk CBG akan didistribusikan menggunakan truk menuju kawasan industri Sei Mangkei, Sumatera Utara, sebagai pusat permintaan energi hijau.

Transformasi ini menegaskan pergeseran peran industri sawit Indonesia, dari sekadar penghasil komoditas pangan dan perkebunan menjadi pilar penting dalam ekosistem energi terbarukan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini